Istilah broken home dapat diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak utuh akibat adanya perselisihan yang menyebabkan perceraian. Kondisi inilah yang dapat mengganggu mental anak, umumnya anak menjadi murung, mudah marah, sedih yang berkepanjangan, dan perubahan sifat lain yang signifikan. Pada umumnya persepsi yang muncul terhadap anak broken home adalah anak bersahabat dengan narkoba, minuman keras, dan pergaulan bebas.
Anak
broken home menjadi korban perceraian
memiliki cerita beragam mengenai nasib keluarganya. Seperti Cinta (nama
samaran), 19, warga Ungaran, Semarang, salah satu anak broken home yang mengisahkan keretakan dalam keluarga mereka.
“Dulu
waktu saya berusia 3 tahun, orang tua sudah mulai bertengkar. Banyak faktor
menjadi penyebab pertengkaran itu. Saat itu saya sangat merasa
ketakutan,” kata dia.
Dia
menyebut bahwa keadaan tersebut
adalah masa-masa sulit bagi faktor ekonomi keluarga. Usia orang
tua masih terlalu dini dan belum mempunyai wawasan cukup untuk mencari
pekerjaan. Dia menduga kondisi itulah menjadi awal mula terjadi pertengkaran.
“Tak
lama setelah pertengkaran itu, ayah mendapatkan pekerjaan sebagai sopir truk. Tapi
itu tidak menyelesaikan masalah, malah semakin memperburuk,” kata dia.
Sejak
ayahnya menjadi sopir truk, dia menyebutkan bahwa ayahnya memiliki wanita lain
dan sering bergonta-ganti pasangan. Hal ini
menjadi
pemicu
terjadi pertengkaran-pertengkaran selanjutnya.
“Rasa
sedih dan takut masih ada sampai sekarang, tapi saya selalu berusaha untuk
bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan dibawa enjoy aja,” ujar dia.
Dia
mampu melampiaskan kesedihan dengan hal-hal positif, seperti mengikuti kegiatan
organisasi dan berkunjung ke rumah teman-teman.
“Ada
sedikit rasa trauma mengenai pernikahan. Namun bukan berarti saya tidak mau
menikah, ada 2 atau 3 kali pertimbangan untuk mengarah kesana,” kata dia.
Cinta
berpesan bahwa tidak perlu terlalu larut dalam kesedihan sebab
setiap orang pasti mempunyai masalah. Sibukkan diri dengan kegiatan
dan lingkungan positif serta bangun pola pikir untuk tidak menjalankan
kehidupan dengan sia-sia.
Berdasarkan
kisah tersebut, dapat membuktikan bahwa anak broken home tak selalu memiliki anggapan yang negatif. Tak sedikit
anak broken home yang mampu bangkit
dan menyikapi kondisi dengan tenang, banyak diantaranya mampu melanjutkan
pendidikan tinggi dan mampu meraih kesuksesan.
Penulis:
Indri Hapsari
Komentar
Posting Komentar