“Mas bawangnya sekilo sama lombok dua ribu yo mas”
“Priitt kiri-kiri mbak”…
Hiruk-pikuk Pasar Beringharjo
setiap hari selalu kudengar. Ya,
bagaimana tidak, aku hanya seorang anak perempuan yang setiap harinya memikul bawang dengan upah 15
ribu rupiah saja. Berapapun upah yang kuterima selalu kusyukuri karena selama
ini Allah telah begitu baik kepadaku. “Nok, kok melamun? Itu bawangnya
masih ada di truk tolong dibawa ke sini ” ucap Bu Maimun.
“Injih bu”.
Seperti
biasa setelah menjadi tukang panggul bawang, aku segera berjalan menuju
Alun-alun Kidul Yogyakarta untuk berjualan minuman dan camilan ringan.
“Buk,
tadi di sekolah aku dapet nilai matematika 100”
“Alhamdulillah
cah bagus sekolah sing bener yo le”
Kudengar
beberapa percakapan antara seorang anak dan ibunya di depan masjid. Terkadang,
aku merasa iri dengan teman-temanku yang bisa bersekolah dan bersenda gurau
dengan orang tuanya. “Ya Allah Fatma rindu ibu, apakah ibu rindu juga pada
Fatma?” ucapku dalam hati. Hari ini cuaca di Kota Pelajar sangat panas hingga
membuatku berteduh di bawah pohon beringin yang amat rindang. Seketika aku
teringat memori tentang ibu yang dulu selalu bercerita tentang Kota Yogyakarta
yang begitu istimewa dengan berbagai keindahan di sudut kotanya. “Dadi cah
wedhok sing kuat yo nduk, mboten pareng ngeluh nggeh. Nanging
yen kowe nangis yo mboten napa-napa, ning nangis ingkang Gusti
Allah mawon nggeh nduk, ben Gusti Allah wenehi dalan
sing becik, mboten usah diketoki ning wong liyo nggeh. Kudu
kuat lan lapang ati yo nduk” Kata-kata yang selalu membuatku tenang disaat
aku merasa kehidupan ini teramat berat. Tanpa sadar buliran-buliran air jatuh
membasahi pipiku. “Mbak mau beli jajannya yang bunder-bunder satu” suara
adik kecil sekitar umur 5
tahun membuyarkan lamunanku tentang ibu. “Oh iyaa dek” jawabku dengan kaget.
Tulisan
kaligrafi berlafadzkan Allah terlihat jelas di depan mataku. Kulantunkan
ayat-ayat suci Al-Qur’an yang di dalam mengandung sejuta makna tentang
kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Ibuku pernah berkata apabila hatimu
sedang gusar ingatlah Allah, bermunajat serta bacalah Al-Qur’an dan dzikir pada-Nya. InsyaAllah hatimu akan menjadi lebih
tenang dan masalahmu sedikit demi sedikit akan hilang.
“Ma,
kamu pulangnya malem banget to?” tanya Putri “Iya tadi habis ke masjid
sebentar” jawabku. “Yo wis, ayo ndang makan nanti kamu kurus
kering kayak
pekerja romusha mau ndak!” katanya dengan wajah agak marah.
Di
bawah jembatan aku biasa melihat indahnya bintang-bintang yang bertaburan di
atas langit. Semilir angin menambah kesyahduan seorang anak perempuan yang
selalu merindukan sosok almarhumah ibunya. Semenjak ibu meninggal beberapa
tahun yang lalu, aku tinggal di bawah jembatan bersama teman-teman yang
mempunyai nasib sama sepertiku. Kami bukanlah anak orang kaya atau bahkan bukan
anak dari Sultan Hamengkubuwono X yang hidup dengan nyaman. Kami hanya anak yang
hidup dari keluarga sederhana yang kemudian Allah memberikan kami ujian untuk
terus berjuang sendirian.
“Nduk,
subuh-subuh gini wis berangkat ke pasar wae?” tanya pak Joko “Inggih
Pak Joko, kalau kata orang Jawa, harus bangun pagi supaya rejekinya mboten
dicucuk pithik pak” jawabku dengan sumringah. “Bareng Pak Joko wae
yo nduk ben kamu ndak jalan jauh” pinta pak Joko. “Matur suwun… mboten
usah Pak Joko, ngerepoti mawon kula” jawabku dengan tak enak hati. “Ya
Allah gusti mboten napa-napa, ayo ndang munggah yo nduk”
ucap pak Joko. “Injih pak, matur suwun sanget njih nyuwun ngapunten
kulo ngerepoti Pak Joko” jawabku dengan senyum. Suasana pagi hari di Kota
Yogyakarta sungguh sangat indah, udara yang masih belum terkontaminasi dengan
polusi semakin menambah kesejukan di sepanjang jalanku, ditambah dengan suara
dercak kuda yang terdengar jelas ditelinga semakin membuatku bersyukur hidup di
Kota Gudeg ini.
Baru
saja aku menginjakkan kaki di pasar, suara khas Bu Maimun di sebelah timur
seperti memanggilku “Nduk Fatma, sini nduk! Ada bapak-bapak Dinas
Pendidikan” ucap Bu Maimun dengan teriak. Tanpa berfikir lama, aku segera berlari
menghampiri Bu Maimun dengan rasa senang. “Nah ini lo pak, namanya Fatma, dia putus sekolah.
Akhirnya nduk ini bekerja, sakjane saya yo kasian tapi mau
gimana lagi pak, mbok tolong ini nduknya dibantu, kasihan saya lihatnya”
ujar Bu Maimun dengan nada lembutnya. Akhirnya bapak-bapak berseragam putih itu
menanyaiku beberapa pertanyaan. Pak Toni namanya, ya beliau bekerja di Dinas
Pendidikan Kota Yogyakarta yang mengurusi anak-anak putus sekolah sepertiku.
Beliau sempat bertanya “Kalau saya memberikan adik beasiswa untuk kembali bersekolah
lagi, bagaimana?”. Dengan senyum aku menjawab “Apabila saya diberikan beasiswa
untuk sekolah lagi, Alhamdulillah
saya sangat bersyukur pak. Saya ingin meraih cita-cita saya untuk menjadi
seorang guru dan saya bekerja ini untuk mengumpulkan uang agar saya bisa
bersekolah lagi. InsyaAllah apabila
saya diberikan beasiswa,
saya akan sungguh-sungguh dalam belajar dan saya sudah berjanji pada almarhum
ibu saya bahwa suatu saat nanti saya akan menjadi orang yang berguna dan sukses Pak Toni.
Saya tidak ingin mengecewakan almarhum ibu saya dan janji itu sudah terpatri di
dalam hati saya Bapak”. “Kalau begitu besok kamu bisa memilih sekolah mana yang
ingin kamu tuju dan semua biaya kami dari Dinas Pendidikan yang akan menanggung
ya”. Itulah kalimat terakhir yang beliau ucapkan padaku, sungguh aku sangat
bersyukur dan segera berpelukan dengan Bu Maimun seperti teletubbies.
Kusiramkan
air di atas
makam ibu, lalu aku berdoa agar ibu tenang di sisi Allah dan aku bercerita bahwa aku bisa melanjutkan sekolah lagi dengan
gratis. Rasa syukur menuntunku untuk mengunjungi masjid dengan mengucapkan rasa
syukurku kepada Allah dan bermunajat untuk segenggam harapanku di masa depan.
Aku ingin sekali membangun sebuah Panti Asuhan, menampung anak-anak yang
ditinggal pergi oleh orang tuanya dan juga anak-anak yang tidak bisa
melanjutkan sekolahnya,
karena bagiku bermanfaat bagi orang lain jauh lebih utama dibandingkan dengan
rasa bahagia yang aku miliki seorang diri. Aku selalu yakin bahwa semesta akan
mengantarkan kita menuju impian-impian kita yang bahkan impian itu terlalu
tinggi untuk dicapai. Jangan pernah berputus asa dan selalu syukuri apa pun yang telah Allah
berikan pada kita, entah itu sedih atau pun bahagia. Tetaplah
terus bermimpi, berjuang,
dan berdoa pada Allah tentang harapan di masa depanmu. Karena sejatinya Allah
pasti akan selalu memberikan kejutan-kejutan tak terduga pada kita di setiap
harinya.
Semarang,
29 September 2020
Nabila
Zahra Mulya
Komentar
Posting Komentar