Oleh Giovani Dio Prasasti pada 01 Sep 2020, 07:00 WIB
Liputan6.com, Jakarta UNICEF mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga anak sekolah di seluruh dunia tidak memiliki akses pembelajaran jarak jauh yang merupakan dampak penutupan sekolah akibat pandemi COVID-19.
"Setidaknya
463 juta anak yang sekolahnya tutup karena COVID-19, tidak ada pembelajaran
jarak jauh," kata Henrietta Fore, Direktur Eksekutif
UNICEF dikutip dalam laman resmi UNICEF pada Senin (31/8/2020).
"Banyaknya
anak-anak yang pendidikannya benar-benar terganggu selama berbulan-bulan, ini
merupakan keadaan darurat pendidikan global," Fore menambahkan.
Ia mengatakan,
dampak dari kejadian ini bisa dirasakan di sektor ekonomi dan masyarakat selama
beberapa dekade mendatang.
Dalam laporan
yang dihimpun oleh UNICEF, pada puncak karantina wilayah secara nasional dan
lokal, sekitar 1,5 miliar anak sekolah terdampak penutupan sekolah. Mereka juga
mengungkapkan adanya keterbatasan dari pembelajaran jarak jauh dan
ketidaksetaraan terkait akses.
Masalah Lain
Data dari UNICEF dihimpun menggunakan analisis
representasi global mengenai ketersediaan peralatan dan teknologi di rumah yang
diperlukan untuk pembelajaran jarak jauh di kalangan anak-anak sekolah
pra-sekolah dasar, sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas di 100
negara.
Data termasuk
akses ke televisi, radio, internet, serta ketersediaan kurikulum yang
disampaikan melalui platform tersebut selama penutupan sekolah.
Selain
kurangnya akses pembelajaran jarak jauh, UNICEF juga memperingatkan situasinya
bisa lebih buruk dari itu.
Sekalipun
anak-anak memiliki teknologi dan peralatan untuk belajar di rumah, mereka
mungkin tidak dapat melakukan kegiatan tersebut karena berbagai faktor lain
seperti tekanan pekerjaan rumah, keterpaksaan untuk bekerja, lingkungan yang
buruk untuk belajar, serta kurangnya dukungan dalam menggunakan kurikulum
daring atau lewat siaran.
Dalam laporannya, UNICEF menyoroti anak-anak di wilayah Afrika sub-Sahara menjadi yang paling terdampak. Sekitar setengah dari seluruh pelajar di sana tidak dapat menjangkau pembelajaran jarak jauh.
Pembukaan Sekolah dan Rencana Keberlanjutan
Selain itu, anak-anak dari rumah tangga
termiskin dan mereka yang tinggal di daerah pedesaan merupakan yang paling
besar potensi untuk tidak bisa mengikuti sekolah daring selama karantina.
Secara global,
72 persen anak sekolah yang tidak dapat mengakses pembelajaran jarak jauh hidup
di wilayah termiskin di negara mereka. Sementara di negara-negara
berpenghasilan menengah ke atas, 86 persen anak sekolah dari rumah tangga
miskin tidak dapat mengakses pembelajaran jarak jauh.
Secara global,
tiga per empat anak sekolah tanpa akses hidup di daerah pedesaan.
UNICEF pun
meminta pemerintah di seluruh dunia untuk memprioritaskan pembukaan sekolah
secara aman apabila karantina mulai dilonggarkan.
Apabila tidak
memungkinkan untuk pembukaan, mereka meminta pemerintah memasukkan pembelajaran
yang bersifat kompensasi untuk waktu-waktu belajar yang hilang dalam rencana
keberlanjutan dari pembukaan kembali sekolah.
Mereka
mengatakan, kebijakan dan praktik pembukaan sekolah harus mencakup perluasan
akses pendidikan termasuk pembelajaran jarak jauh, khususnya bagi
kelompok-kelompok marjinal. Selain itu, sistem pendidikan juga harus diadaptasi
dan dibangun untuk menghadapi krisis di masa depan.
Komentar
Posting Komentar