Baiklah entah untuk berapa kali aku harus pindah kontrakan, kesana kemari mencoba untuk mencocokan pekerjaan paruh waktuku dengan jadwal kuliah. Pagi ketemu siang, siang ketemu malam, malam ketemu pagi lagi. Waktu terus berputar tanpa henti, begitupun dengan kegiatanku, entah apa yang salah siang malam aku telah bekerja keras agar seluruh target-targetku bisa terpenuhi tapi rasanya hanya lelah yang di dapat.
Waktu telah menunjukan pukul tujuh lebih tiga puluh menit, pyuuh akhirnya bisa berbaring untuk sekedar meluruskan punggung ini. "Dorrr, hahahaha. Kamu jaga" cekikikan tawa itu berhasil membangunkan mataku yang mulai terpejam. Kesal sekali rasanya tapi mau bagaimana lagi namanya juga tempat orang lain bukan rumah sendiri.Ya, untuk kali ini kontrakanku bukan rumah yang terpisah atau kamar yang terpisah akan tetapi kamarku berada di dalam rumah pemilik kontrakan atau lebih tepatnya ya bareng-bareng gitu tinggal satu rumah bersama pemilik kontrakan, katanya sih sayang ada kamar kosong alhasil dikontrakin deh.
"Hahahaha kamu kok kalah terus sih" yaaaa begitulah sayup-sayup kudengar tawa itu yang akhirnya berhasil membuatku benar-benar terjaga, hilanglah kantukku seketika. Aku penasaran dengan suara tersebut, ku intip lewat jendela kamar yang kebetulan langsung terhubung ke halaman luar rumah dan ternyata suara cekikikan itu berasal dari tiga anak perempuan sepertinya berumur sekitar dua belas tahun, mereka tengah bermain. "Astaga mereka menghabiskan waktu bermain malam hari seperti ini, ya ampun kaya gak ada siang hari aja".
Karena mataku terlanjur melek akhirnya ku isi kegiatan malam hari ini untuk mengerjakan tugas yang deadline pengumpulannya masih sangat lama. Sampai pukul sebelas malam aku berhasil mengerjakan lima tugas sekaligus, selagi aku mengerjakan tugas suara cekikikan anak-anak itu mulai berkurang intensitasnya. Baiklah akhirnya mataku mulai mengantuk kembali dan akhirnya kuputuskan untuk terlelap.
Pagi hari yang sangat cerah, ku mulai rutinitas kesibukanku seperti biasanya, memulai hari dengan bekerja paruh waktu di tempat baru. Sepulang kerja langsung menuju kampus untuk kuliah dan akan berakhir pada pukul tujuh malam itu pun kalau tidak ada kelas tambahan atau kerja kelompok, sebab kalau ada pasti baru bisa pulang pukul sepuluh malam. Hari ini aku pulang pukul tujuh malam karena tidak ada kegiatan tambahan selain kerja dan kuliah huuuh rasanya senang sekali bisa istirahat lebih awal.
Tepat pukul tujuh lebih lima belas aku sampai ke kontrakan dan saat tiba di halaman depan ternyata ada tiga anak kecil yang kemarin sempat menganggu waktu tidurku.
"Hallo kak selamat malam, kakak baru pulang ya?" salah satu anak menyapaku dengan senyuman yang merekah indah.
"Kakak pasti capek banget ya kak, terimakasih ya kak, kakak sudah bekerja keras hari ini, semangat untuk besok" dua anak lainnya bergantian menimpali dengan kalimat itu.
"Hmm iya dek" cuma gumaman itu saja yang bisa aku balas, sebab badan ini rasanya sudah sangat ingin menempel pada kasur.
Hari demi hari terus berlanjut, tiga bulan sudah aku menempati kontrakan ini aku pikir ada hal yang berbeda, namun rasanya sama saja. Hanya bedanya setiap pulang ke kontrakan selalu ada tiga anak yang sangat setia menyapa dengan kalimat yang sama dan seperti tak ada kapoknya walaupun cuma aku jawab dengan satu atau dua patah kata. Tiga anak yang aneh, dulu pernah siang hari saat aku libur kuliah dan kerja dan cuma seharian di kontrakan, tiga anak tersebut sama sekai tidak menunjukan batang hidungnya, tapi saat malam hari tepat pukul tujuh malam pasti mereka akan berkumpul dan bermain.
Waktu telah menunjukan pukul tujuh malam, setelah selesai mandi, shalat dan makan akhirnya kuputuskan untuk mencari udara segar diluar. Dan terpikir dalam benakku untuk menemui mereka, aku sangat penasaran kenapa mereka lebih memilih bermain pada malam hari daripada siang. Tepat pukul tujuh lebih lima belas menit satu anak keluar dari dalam rumah tersenyum menyapaku
"Hallo kak, kok ada di luar sih?"
"Hmm iya dek, lagi cari udara seger"
lalu tak lama datang dua orang anak dengan senyuman cerianya namun yang satu jalan menggunakan tongkat ditangannya dan yang satu menuntunnya. Setelah sampai mereka seperti otomatis menyapaku " Hallo kak...".
"Ayok hari ini kita mau main apalagi ya, petak umpet atau apa ya"
ku perhatikan mereka sedang berdiskusi sambil sesekali melemparkan candaan penuh tawa. Sampai pada pukul sembilan malam mereka akhirnya mulai duduk untuk menyantap makanan yang telah disiapkan ibu pemilik kontrakan yang tak lain adalah ibu dari salah satu ketiga anak itu. Hrrr rasa penasaranku sangat tak bisa dibendung akhirnya aku mulai turun ke lantai duduk baris bersama mereka bertiga yang tengah asik makan biskuit sambil memandang ke arah langit.
"Hallo, kakak boleh gabung main bareng kalian kan malem ini?"
"Boleh dong kak, dari awal juga pengen ngajak kakak main tapi kayanya kakak super sibuk jadi yaudah deh kita gak mau ganggu" anak dari pemilik kontrakan ini menimpali.
"Kakak pengen deh bisa bahagia, ketawa bebas tanpa beban kaya kalian. Tapi sayangnya gak bisa. Kakak harus kerja keras buat impian kakak, gak bisa leha-leha"
"Hmm emangnya kakak gak capek ya kak?" anak pembawa tongkat itu bertanya
"Capek sih dek ya tapi mau gimana lagi"
"Kalo aku sih ya kak, kalo lagi jalan jauh entah itu mau kemana atau kemana, kalau capek ya aku istirahat. Soalnya kalo enggak istirahat ntar bisa pingsan kak, terus kalo pingsan nanti sia-sia deh aku udah jalan jauh" anak berbaju lusuh itu menimpali, dan hanya kubalas dengan anggukan.
"Oh iya dek kakak mau tanya, kok kalian mainnya malem terus sih, kan ada siang kenapa pilih malam?"
"Karena malam itu damai kak, sejuk, terus bisa sambil liat bintang, menari bersama dedaunan yang diterpa semilir angin. Hmm pokoknya enak kak" anak pembawa tongkat itu pun menjawab
"Tapi gelap loh dek, gak takut hantu atau apa gitu"
"Hidup kita udah terlanjur gelap kak, dunia kita juga rasanya gelap banget tapi itu semua kan bagian dari diri kita jadi ya ngapain mesti takut"
"Ya kak kita gak akan lagi untuk takut gelap kak, karena bintang yang paling bersinar aja adanya dalam kegelapan bukan di cahaya yang terang benderang"
Degg aku rasa kayanya perkataan anak-anak itu memiliki makna deh. Tepat pukul 10 malam mereka pamit untuk pulang dan beristirahat di rumah masing-masing, tapi rasanya aku masih kalut dengan beberapa perkataan anak-anak tadi. Tak lama setelah anak-anak itu pergi, ibu pemilik kontrakan datang menghampiriku.
"Kamu kok belum istirahat nak?"
"Hmm iya bu hehe belum ngantuk"
"Kamu kenapa? masih penasaran dengan mereka bertiga ya. Begini, mau ibu ceritakan tentang penyebab mereka selalu bermain saat malam hari?"
"Wahh boleh bu"
Waktu berlalu dengan begitu cepat, kuhabiskan sisa malamku bercerita banyak hal dengan ibu pemilik kontrakan sampai pukul dua belas malam. Aku merenungi kisah mereka, tertampar akan kisahnya dan pecahlah air mata ini sampai pagi buta.
Selama dua jam pada malam itu ibu pemilik kontrakan menceritakan seluruh kisah mereka, pertama beliau menceritakan tentang anaknya, beliau bilang bahwa anaknya lah yang menjadi alasan mereka selalu bermain pada malam hari. Anak beliau mempunyai penyakit xerodema pigmentosum yaitu suatu kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya tidak bisa terkena sinar matahari sedikit pun. Beliau mengatakan sangat bersyukur anaknya bisa menemukan teman yang sangat baik walau awalnya mereka bertiga sama-sama mempunyai kekurangan atau mereka biasa menyebutnya sisi gelap dalam hidup mereka.
Seperti sang anak yang berpenampilan lusuh merupakan anak dari kalangan keluarga miskin yang memaksanya menjadi orang dewasa sebelum waktunya dan bekerja membantu untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Lalu satunya lagi anak perempuan buta yang sempat mengalami putus asa dan hampir bunuh diri karena kecelakaan yang menyebabkannya buta dan merenggut nyawa ibunya. Ketiganya dipertemukan tanpa sengaja bagaikan takdir yang telah tertulis nyata.
Pada malam dimana mereka bertemu yaitu di pusat taman perbatasan antara komplek ini dan perumahan kumuh di kampung sebelah. Ketiganya saling bercerita keluh kesahnya satu sama lain. Ibu pemilik kontrakan pun menceritakan sambil sesekali menyeka air matanya. Sang anak lusuh bercerita tentang bagaimana bebannya diperlakukan layaknya orang dewasa, seharian penuh dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, ia pernah sempat memprotes kalau dia ingin seperti anak-anak pada umumnya yang merasakan bermain tertawa tanpa beban tapi rasanya seperti tak ada ruang sedikitpun yang memberinya kebebasan untuk itu.
Lalu sang anak pembawa tongkat yang bercerita bahwa semua impiannya motivasinya hilang seketika karena disaat yang bersamaan penglihatan dan tempatnya berkeluh kesah pergi meninggalkannya, disaat ia terpuruk dengan keadannya seluruh keluarga justru menghilang dan meyalahkannya atas kejadian itu. Dan pada malam itu juga ibu pemilik kontrakan bersama anaknya dan anak lusuh menemukan anak pembawa tongkat itu tergeletak di taman dengan kondisi pergelangan tangan yang bercucuran darah.
Dan semenjak kejadian tersebut sang ibu pemilik kontrakan selalu mengajak ketiga anak itu untuk datang ke rumahnya untuk menceritakan segala keluh kesahnya, saling bertukar pikiran, atau apapun yang ingin mereka lakukan tanpa harus takut dengan semua hal yang sekarang menjadi bebannya. Hingga akhirnya satu persatu dari mereka mulai menyadari bahwa kebahagiaan adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Apapun masalahmu, seberapa berat bebanmu kamu berhak bahagia.
Itulah sepenggal kisah dari anak-anak itu, anak-anak yang tetap ingin menjadi anak-anak, mereka yang ingin bermain, dan tertawa. Anak-anak kuat yang berhasil berdamai dengan segala kekurangannya seperti yang mereka katakan.
"Walau pun aku gak sempurna, tapi aku adalah edisi terbatas, dan aku gak perlu tuh maksain diri buat jadi keren seperti yang ada di luar sana".
Ya itulah mereka yang tetap bisa bahagia dengan segala keadaan dan proses yang mereka lalui, kalau kata mereka sih.
"Kebahagiaan itu kak bukan sesuatu yang harus kakak capai, sebab kakak masih bisa bahagia kok selama proses mencapai sesuatu itu" dan boooomm kata-kata terakhir itu yang semakin menamparku.
Komentar
Posting Komentar